Berburu Kekayaan Budaya di Pulau Lombok (Keberadaan Naskah Kuno di Desa Sade dan Desa Sesela)
ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI
WABARAKATUH.
Kalian sehat kan? harus sehat
ya! pastinya sehat dong. Alhamdulillah. Jangan lupa minum 8 gelas perhari ya.
Aku ingin kalian tau bagaimana
perjuanganku mencari naskah ini sebagaimana perjuangan orang-orang yang
bertanggung jawab menjaga naskah agar tidak rusak dan tetap utuh serta dapat
dilestarikan turun temurun.
SESUATU YANG BERHARGA TIDAK
DIDAPATKAN SECARA INSTAN
Hari Ulang Tahun ku yang ke 20
tanggal 20 Oktober tahun ini tidak aku gunakan untuk merayakan bersama keluarga
seperti tahun-tahun lalu, tapi merayakan bertambahnya umur diatas aspal yang
panas dengan berbekal Motor Beat Streat, Hp Xiaomi dan Kartu Unlimited. Sedih
kan?, pastinya kerenlah hehehe. Perjalanan ini menjadi kado terindah
karena sangat bermanfaat untuk aku, suatu pengalaman yang berkesan dan
pengetahuan tambahan untuk kalian. So, buat kalian yang lagi baca blog aku
dalam hati sambil rebahan boleh aja kok asal fokus ya.
Tujuan dari wisata budaya kali
ini adalah untuk mencari keberadaan naskah-naskah kuno di Pulau Lombok, bukan
bertujuan untuk mengumpulkan 7 bola dragon ball.
Oke sebelum kita memulai segala sesuatu dengan Bismillah ya, "Bismillahirrahmanirrahim"
Oke sebelum kita memulai segala sesuatu dengan Bismillah ya, "Bismillahirrahmanirrahim"
Pada hari minggu tanggal 20
Oktober 2019 pukul 08.45 WITA, aku berangkat dari rumahku yaitu Kota Mataram
menuju Desa Sade Kabupaten Lombok Tengah dengan menempuh perjalanan sekitar 40
menit.
Desa Sade adalah salah satu
dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal
sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak. Suku Sasak Sade sudah
terkenal di telinga wisatawan yang datang ke Lombok. Ya, Dinas Pariwisata
setempat memang menjadikan Sade sebagai desa wisata. Ini karena keunikan Desa
Sade dan suku Sasak yang jadi penghuninya. Sebagai desa wisata, Sade punya
keunikan tersendiri. Meski terletak persis di samping jalan raya aspal nan
mulus semulus kulit selebriti Jakarta, penduduk Desa Sade di Rembitan, Lombok
Tengah masih berpegang teguh menjaga keaslian desa. Salah satunya menyimpan
Naskah Kuno yang jadi objek buronanku kali ini. Sebenarnya tujuan pertamaku
bukan Desa Sade ya melainkan Desa Sesela di Lombok Barat, tetapi dalam sekejap
aku berubah pikiran dan lebih memilih tempat yang lebih jauh. Walaupun lebih
jauh tapi sepertinya Desa Sade adalah tujuan yang tepat karena secara
background desa ini memang masih sangat kental dengan kebudayaan asli Sasak dan
sangat berpeluang memiliki naskah kuno.
Oh Iya For Your Information, tidak
semuanya orang yang memiliki Naskah Kuno mau dipublikasikan kepemilikannya
dikarenakan nanti banyak yang kepo Hehehe. Tidak sembarangan orang boleh
mengakses naskah kuno tersebut. Naskah Kuno sangat dikeramatkan loh. Jadi kita
juga harus menghormati keputusan serta harus SABAR dan tidak boleh NYOLOT
apabila tidak dapat melihat dengan mata serta mendokumentasikan naskah
kuno tersebut secara langsung.
Bisa dibilang, Sade adalah
cerminan suku asli Sasak Lombok. Yah, walaupun listrik dan program Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dari pemerintah sudah masuk ke sana,
Desa Sade masih menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok.
Alhamdulillah tidak ada hambatan
dan rintangan yang berarti ketika diperjalanan. Sesampainya di sana, aku
melepas lelah dan letih dulu di Alfamart yang berada di depan Desa Sade sembari
menunggu narasumber yang akan diwawancarai.
Setelah menunggu selama kurang
lebih 40 menit akhirnya salah seorang Guide (Pemandu Wisata Kebudayaan) di Desa
Sade sudah bisa diwawancarai yang bernama Bapak Hariadi, beliau masyarakat asli
Desa Sade dong.
Berhubung beliau ini adalah
narasumber yang menggantikan orang yang awalnya ingin kami temui yaitu pemegang
naskah-naskah kuno yang sedang tidak ada ditempat serta tidak dapat ditemui.
Tetapi sungguh senang hati ini karena Bapak Hariadi bersedia menjadi
narasumber pengganti hehehe. Memang hobi banget deh yang namanya kegiatan
menunggu. Bapak Hariadi sebenarnya juga sangat sibuk hari itu, selain akan menjadi
player Gendang Beleq nanti siang beliau beserta masyarakat Desa Sade yang
lain sedang membangun satu rumah adat baru. Sembari menunggu, akhirnya
aku mengelilingi Desa Sade dan melihat-lihat kembali segala yang ada di Desa
tersebut. Ini adalah kunjungan ketigaku ke Desa Sade, tapi entah
mengapa aku tidak bosan-bosan untuk mengelilingi Desa ini. Mata ini disajikan
pemandangan yang sangat mempesona.
Tiba saatnya proses wawancara
yang dilakukan di pinggiran Alfamart, NGADEM Hehehe. Bapak Hariadi loh yang
mengajak wawancara disana biar fokus, karena memang di dalam kompleks Desa Sade
sangat ramai tamu dari luar daerah yang datang berwisata pada hari itu.
Menurut penuturan Bapak Hariadi,
Desa Sade menyimpan Naskah Kuno yang ditulis diatas Lelontaran/daun lontar yang
disebut dengan Takepan. Takepan ini terdiri dari banyak lembaran daun lontar
yang disatukan yang ditulis menggunakan Bahasa Kawi/Aksara Kawi. Takepan
memiliki judul/nama masing-masing sesuai dengan isi yang terkandung seperti
Takepan Rengganis yang menceritakan tentang Putri Rengganis. Dalam Penjagaan
dari Takepan ini adalah dijaga oleh seorang Kyai yang juga mahir membaca
Takepan dan nantinya akan digantikan oleh keturunan selanjutnya, begitu
seterusnya. Pepaosan/pembacaan Lelontaran biasanya dilakukan diluar rumah
misalkan di Berugak.
Hal yang menjadi inti dari
fungsi naskah kuno di Desa Sade yang berupa Lelontaran ini adalah naskah ini
hanya digunakan untuk acara adat saja seperti pernikahan dan tidak digunakan
dalam acara keagamaan seperti Maulid nabi atau lebaran ketupat yaitu lebaran
suku sasak yang dilakukan seminggu setelah lebaran Idul Fitri.
Salah satu nama acara adat yang
juga melibatkan Takepan ini adalah acara Ngayu-ayu yang merupakan
tradisi/kepercayaan terhadap roh nenek moyang karena masih tidak terlepas dari
kepercayaan animisme. Pembacaan Lelontar dalam acara Ngayu-ayu ini
dibaca saat malam hari sebelum acara besok pagi yang dibacakan oleh yang
menjaga naskah ataupun keturunannya.
Ada juga istilah penurunan
naskah yang memiliki arti yaitu proses membuat salinan / menjiplak naskah
berupa Lelontaran yang asli ke daun lontar yang baru demi menjaga kemurnian isi
dari naskah yang asli serta dapat disimpan dalam waktu lama. Dalam Menyalin
Naskah tidak mudah karena menggunakan sebilah pisau kecil dan tajam yang
digunakan untuk mengukir di daun lontar yang jika tidak mahir maka daun lontar
akan sobek. Dalam menangani segala Lelontaran, baik itu membaca, menjaga,
menyalin semuanya diperuntukkan hanya untuk laki-laki saja. Laki-laki tanpa
batasan usia dapat belajar mendalami Lelontaran ini, baik usia belia maupun
lanjut usia. Waktu yang dibutuhkan untuk mendalami segala tentang Lelontaran
ini berbeda-beda tergantung dari Kemahiran dan Keterampilan setiap individu.
Sebenarnya aku sangat penasaran
dengan bentuk asli dari Lelontaran ini. Tetapi seperti yang dikatakan Bapak
Hariadi, Naskah kuno ini adalah naskah yang asli dan sangat dikeramatkan.
Naskah ini tidak akan pernah dikeluarkan apabila tidak ada acara adat. Akupun
harus menerima ketentuan ini. Memang ada orang yang memperbolehkan Lelontaran
nya dipublikasikan tetapi itu biasanya adalah Lelontaran hasil salinan. Sebagai
gantinya, Bapak Hariadi mengajak ke salah satu rumah tempat penyimpanan
naskah-naskah kuno di Desa Sade ini. Rumah tersebut berada di paling atas dari
Desa Sade dan sangat dijaga sampai nantinya ada acara adat yang akan diadakan
disana sehingga Lelontaran dapat dikeluarkan.
![]() |
| Rumah Tempat Penyimpanan Naskah Kuno |
Setelah selesai wawancara,
akupun pamit dengan perasaan berat hati sebenarnya dengan niat akan mencari
naskah kuno ditempat lainnnya.
MATUR TAMPIASIH BAPAK HARIADI.
Tidak ada orang yang mencoba
hanya sekali saja. Ohh Jelas, karena pada hari Senin tanggal 21 Oktober aku ada
full Kuliah dar pagi sampai sore akhirnya wisata budaya selanjutnya dilakukan
pada hari Selasa tanggal 22 Oktober 2019. Aku hanya bermodal NEKAD dan info
tentang AMAQ RAISAH dari Sesela Lombok Barat. Kalian tau nggak? Sesela itu luas
banget, ada dusun ini dusun itu. Beberapa teman kenalanku yang berasal dari
Sesela sudah aku tanyakan apakah mereka mengenal orang yang bernama Amaq Raisah
yang memiliki naskah kuno. Sebagai seorang Mahasiswa, hal yang pastinya aku
lakukanlah adalah datang ke kantor kepala desa untuk mencari informasi. Di
kantor desa aku bertemu dan disambut hangat oleh pegawai disana yang bernama
Bapak Lutfi. Bapak Lutfi mengatakan
memang disini dahulu terdapat naskah kuno yang pertama dan asli berisikan
tentang sejarah desa Sesela dengan tulisan aksara Kawi yang kemudian disalin ke
tulisan Arab Melayu dan terakhi kalinya ke dalam huruf latin Bahasa Indonesia
menggunakan mesin ketik zaman dulu.
Bapak Lutfi kemudian menelpon
lalu memberikan nomer HP seorang yang masih menjaga adat di Sesela yaitu Bapak
Ijtihad. Dari Telpon, kami menanyakan apakah
Bapak Ijtihad mengenal Amaq Raisah di Sesela. Bapak Ijtihad
mengatakan adanya Amaq Nurisah bukan Amaq Raisah seperti yang aku tanyakan.
Kali ini kemungkinan memang aku yang salah terkait nama tersebut. Akhirnya
Bapak Ijtihad memberikan Alamat Amaq Nurisah yaitu di Dusun Kebon Bawaq
masuk ke gang sebelah barat deket kuburan. Dengan hati riang gembira
akupun meluncur ke alamat yang dimaksud. Tenyata walaupun sudah ada petunjuk
tetapi masih sangat sulit menemukan Amaq Nurisah. Setelah bertanya di beberapa
warga, betapa terkejutnya aku ternyata nama Amaq Nurisah tersebut bukan nama
orang tetapi nama salah satu Gang. Kalian tau nggak perasaan ku saat itu? Nggak
sampai hancur sih.
Tanpa ada rasa putus asa
sedikitpun yang terbersit, aku berinisiatif mendatangi pasar seni Sesela tempat
berkumpulnya para pengrajin patung ataupun cukli dan kerajinan lainnya serta
tempat mereka berdagang hasil kerajinan mereka. Disana aku bertemu Bapak
pengrajin patung dan menceritakan maksud serta perjalanan ku dari awal di Desa
Sesela.
Alhamdulillah Ya Allah, Bapak
pembuat patung mengetahui keturunan yang masih menyimpan Naskah Kuno yang asli
kemudahan bapak tersebut mengantarku ke rumah yang dimaksud.
Sampailah aku di alamat rumah
Bapak Hairul yaitu pewaris dari naskah asal usul Desa Sesela. Langsung Proses
wawancara aja ya Hehehe.
Jadi dengan berat hati, Pak Hairul dan Istri
menceritakan bahwa naskah-naskah kuno dan benda-benda pusaka milik mereka
dipinjam oleh Tuan Guru Besar salah satu Pondok Pesantren. Sampai saat belum
dikembalikan, karenakan juga pak hairul yang tidak terlalu mengerti dan
kesusahan dalam perawatan naskah kuno tersebut. Pak Hairul juga belum sempat
belajar membaca naskah kuno dikarenakan almarhum Bapak beliau meninggal
dunia saat Bapak Hairul masih kecil. Sangat disayangkan sebenarnya. Dan
ternyata istri dari Bapak Hairul merupakan keturunan dari orang-orang yang
memegang naskah juga yaitu keturunan bangsawan Rembiga yaiti Raden Semirang.
Beliau menyarankan agar pergi ke Rembiga dan bertemu dengan dua tokoh
besar di sana yang bernama Lalu Mahdan dan H. Lalu Bahraen. Karena menurut Istri
Bapak Lutfi kemungkinan mereka akan memperlihatkan naskah kuno yang
berisikan tentang asal usul Rembiga. Selain ke Rembiga, tujuan selanjutnya
adalah ke salah seorang penggiat naskah yaitu orang yang biasanya menyalin
Takepan ke Lelontaran yang baru yang beralamat di Kuripan.
Eh udah sampai bawah aja nih.
Sampai disini dulu ya tulisan panjangku ini. Semoga bermanfaat untuk kalian
semua. Tunggu kelanjutan wisata budaya aku ya.
Intinya tidak ada kata menyerah
sebelum dapat dong. Usaha yang banyak lebih berarti menurutku Hehehe.
TERIMA KASIH.
WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI
WABARAKATUH.







apa endingnya.. penasaran..
BalasHapusDitunggu Yaaaa. Terimakasih sudah mampir di blog ini
HapusSeru nih kayak cerita petualangan, good job
BalasHapusHehehe Terimakasih. Memang sengaja dibuat seringan mungkin.π
HapusCeritanya ringan. Kayak berasa kita ada di dlm cerita. Apik. π
BalasHapusTerimakasih Ya, Insyaallah di artikel berikutnya akan teyap menggunakan bahasa yang semi formal.
HapusBaru tau nih kalo naskah kuno itu masih tersimpan. Informasi yang bermanfaat
BalasHapusHehehe iya. terimakasih sudah mampir. Memang masih banyak naskah kuno yang tersimpan dan masih belum terpublikasikan Karena sangat dikeramatkan.
HapusSangat bermanfaat saa, kembangkanππ
BalasHapusDitunggu petualangan selanjutnya yaa. Sukses.
BalasHapusLengkap banget informasinya, sangat bermanfaat. π saya menunggu Artikel anda selanjutnya
BalasHapusWahh keren kak
BalasHapusπ
BalasHapusWah bermanfaat sekali tulisannya, menambah pengetahuan pembaca. Semagatttt ditunggu tulisan berikutnya...
BalasHapusKeren keren
BalasHapusMantap mbak, postingan ini sangat bermanfaat sekaliπ
BalasHapusKeren bnget cerita petualangannya, good jod π
BalasHapusKerennnn MasyaAllah,
BalasHapusBagus banget
BalasHapusTetap semangat.kami tunggu cerita berikutnya
BalasHapusBagus banget termasuj cara penyajian dan pilihan" kata.
BalasHapusLanjut terus ya!
Wow bermanfaat sangat ❤
BalasHapusTerimaksih, sangat bermanfaat sekali π
BalasHapusWaahh unda sneng bacanya
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusNunggu yg episode 2 keluar π, edukatif banget. Semoga segera menemukan naskah kuno yg di inginkan ya π
BalasHapusSangat bermanfaat, ditunggu kelanjutannya ya π
BalasHapusLuar biasaa sangat menarik untuk di bacaa,
BalasHapusWadidawwa kren bangt sip dh manteb
BalasHapusBagus bangett
BalasHapusKerenπ
BalasHapusMantul,,,kembangkan
BalasHapusInfonya sangat bermanfaat semoga kedepannya lebih maju lagi π
BalasHapusMakasih sudah mau share.
BalasHapusπ
BalasHapusMantapp
BalasHapusWaaooww keren
BalasHapusKerenπ
BalasHapusMasyaAllah
BalasHapusWow bagusnya beb
BalasHapusKerenπ
BalasHapusKeren, ga berasa udah sampe bawah aja bacanya, ditunggu part 2nya wkwk
BalasHapusWahhh kreatif dan bagus karyanya π semoga bisa memotivasi anak yg lain
BalasHapusπ
BalasHapusMaasyaAllah baru tau ni kalo di desa sesela juga masih ada naskah kuno. Berrmanfaat banget ni informasinya. Semangat terus ya
BalasHapusSeru ah petualangannya, dan infonya sangat bermanfaat, ditunggu kelanjutannya yaaa
BalasHapusKeren kk.. Semoga sukses dan dimudahkan perjuangannya..
BalasHapusDan selamat ulang tahun walaupun telat ��
mantap
BalasHapus